Kamis, 24 September 2015

Keragaman dalam organisasi



KASUS

Hubungan Jenis Kelamin dan Peran jenis terhadap Stres Kerja 
Secara umum, dunia kerja di luar rumah didominasi oleh pria. Kekuatan organisasi yang mereka bangun dalam dunia kerja mereka otomatis akan dipengaruhi oleh karakter maskulin. Demikian pula halnya dalam kantor akuntan publik. Beberapa penelitian mengatakan bahwa karakter maskulin dominan dalam kantor akuntan public. Lingkungan kantor akuntan publik yang berkarakter maskulin maksudnya yaitu lingkungan kerja yang level kompetisinya tinggi, tekanan kerja yang berat, pengendalian dan pengawasan yang ketat. Hal tersebut menjadi pemicu stress kerja khusunya untuk wanita. Faktor-faktor yang menjadi pemicu stres kerja bermacam-macam. Beberapa studi menemukan bahwa tingkat stres yang dialami wanita hampir tidak ada perbedaan dengan tingkat stres yang dialami oleh pria. Sementara itu, studi yang dilakukan Collins (1993) di kantor akuntan publik menemukan bahwa wanita mengalami stres kerja lebih tinggi dibanding pria. Wanita mengalami stress kerja yang tinggi karena adanya tuntutan pekerjaan dan rumah tangga. Hal lain yang menjadi penyebab tingginya stres kerja adalah ketidakmampuan wanita pada umumnya dalam menghadapi lingkungan kerja yang didominasi oleh pria.

TEORI
Diversity in Organization adalah keragaman/perbedaan di dalam suatu organisasi. Perbedaan tersebut yaitu usia, agama, ras, fisik, dan gender. Keragaman dalam organisasi merupakan suatu hal yang sangat penting saat ini. Dengan keragaman, organisasi dapat memperoleh berbagai pandangan, kemampuan, dan berbagai hal untuk mengatasi permasalahan organisasi atau perusahaan, dan dapat juga meningkatkan efektivitas perusahaan.

Karakteristik biografis merupakan karakteristik pribadi yang terdiri dari:

a.          Usia
Hubungan antara usia dan kinerja pekerjaan kemungkinan akan menjadi masalah yang lebih penting selama dekade mendatang. Pengaruhnya antara lain:

b.          Gender atau Jenis Kelamin
Tidak ada perbedaan yang mencolok antara pria dan wanita, kecuali jika dikaitkan dengan budaya setempat berkaitan dengan keabsenan, bahwa wanita lebih memiliki tingkat kebasenan yang tinggi dibandingkan dengan pria, hal ini berkaitan dengan tanggungjawab dan fungsi dari seorang wanita dirumah tangga.

c.           Status Perkawinan
Tidak terdapat hubungan antara status perkawinan dengan produktivitas, namun hasil riset menunjukkan bahwa karyawan yang telah menikah mempunyai tingkat pengunduruan diri yang rendah, tingkat keabsenan yang rendah dan lebih puas dengan pekerjaannya disbanding rekan sejawat yang belum menikah, hal ini dapat dikaitkan  dengan status perkawinan yang menuntut suatu tanggungjawab lebih besar

TINGKAT-TINGKAT KERAGAMAN
• Keragaman Level Permukaan (Surface-level diversity) Perbedaan-perbedaan dalam karakteristik yang mudah dinilai, seperti: jenis kelamin, ras, etnis, umur, atau kecacatan yang tidak selalu merefleksikan cara orang berfikir atau merasa tetapi dapat memunculkan stereotip tertentu
• Keragaman Level Dalam (Deep-Level Diversity) Perbedaaan dalam nilai-nilai, kepribadian, dan preferensi kerja yang menjadi lebih penting secara progresif dalam menentukan kesamaan, seiring semakin mengenal orang lain dengan baik

KENDALA PENERIMAAN KERAGAMAN
• Prasangka
• Kesukuan
• Stereotype
• Kecenderungan menyalahkan korban
• Diskriminasi
• Pelecehan seksual

KASUS dan TEORI
Dalam kasus ini, Adanya stereotip bahwa pria memiliki karakter maskulin dan wanita memiliki karakter feminin sehingga terdapat perbedaan antara auditor pria dan wanita dalam beberapa aspek seperti kinerja, kepuasan kerja, kemajuan karir, dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan kantor akuntan publik. Munculnya hambatan bagi wanita dalam meniti karir memang telah menjadi pertimbangan. Bagaimanapun secara kodrat urusan domestik seperti mengurus  anak dan urusan rumah tangga lainnya lebih dititikberatkan pada wanita. Penelitian Collins (1993) menemukan bahwa auditor wanita memiliki tingkat turnover yang lebih tinggi dibandingkan auditor pria. Salah satu penyebab tingginya tingkat turnover auditor wanita dibandingan auditor pria adalah rendahnya kepuasan kerja akibat adanya diskriminasi dalam pemberian kesempatan untuk maju dan pemberian gaji yang dirasakan auditor wanita. Disamping itu, turnover juga dipengaruhi oleh stres kerja, auditor wanita  yang  melakukan turnover  memiliki  tingkat  stress kerja  yang lebih tinggi dibanding yang tidak melakukan turnover dikantor akuntan publik. Hal ini disebabkan pekerjaan berat dan waktu kerja yang padat menyulitkan wanita untuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

KESIMPULAN
Kesimpulan Keberagaman (diversity) adalah segala hal yang berbeda. Ada 2 tingkatan dalam keragaman, yaitu, keragaman level permukaan dan level dalam. Dan ada 3 variabel khusus dalam keragaman yaitu karakteristik biografis, kemampuan dan program keragaman. Ketiga variabel itu mempunyai kelebihan dan kekurangan, menjadi tugas manajer untuk bisa mengelola perbedaan/keberagaman dalam organisasi/perusahaan. Manajer harus terlebih dahulu menguasai ilmu Manajemen keberagaman. Keberagaman bukan sebuah hambatan, namun sesuatu yang bisa meningkatkan produktivitas dan penjualan jika dikelola dengan baik.

SARAN
Dalam menjabat sebagai seorang akuntan publik, perbedaan antara tingkat kepuasan kerja, stress kerja, dan keinginan berpindah berdasarkan gender dapat diminimalisir dengan menghilangkan diskriminasi dalam pekerjaan. Sebenarnya, kualitas pekerjaan tidak dapat diukur dari gendernya. Hal ini dikarenakan baik pria maupun wanita belum tentu memiliki karakter yang benar-benar maskulin atau feminim. Ada wanita yang bersifat maskulin, begitupun sebaliknya. Pengaruhnya lebih didasarkan dari karakter secara individu. Ada plus minus dari pria maupun wanita. Meskipun wanita mudah stress, namun wanita cenderung lebih teliti dan cermat dalam menyusun laporan keuangan. Sedangkan pria meskipun lebih tahan terhadap stress, namun seringkali lebih banyak ditemukan kesalahan dalam akuntansi. Oleh karena itu, pekerjaan sebagai akuntan publik sebaiknya tidak memandang berdasarkan gendernya, tetapi karakter dan keakuratan dalam bekerja

DAFTAR PUSTAKA

Minggu, 13 September 2015

Pengambilan Keputusan dalam Manajemen



KASUS

Pak Darwin adalah seorang Manajer Keuangan pada PT. Arta. Pekerjaan pada devisi keuangan mengharuskan Pak Darwin harus cermat dalam menginvestasikan serta mengolah keuangan pada PT. Arta. Pada saat itu diharuskan penggantian mesin di pabrik dan harus menghitungan dengan cermat sebelum melakukan investasi pada mesin yang akan dibeli agar investasi yang dilakukan tidak merugikan perusahaan.  Maka Pak Darwin harus melakukan keputusan untuk menginvestasikan keuangan perushaan secara cermat.

TEORI
Pengambilan keputusan adalah proses dalam manajerial,yang secara universal pengambilan keputusan merupakan alternatif dalam pemecahan masalah. Selain itu pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang manajer menjadi tolak ukur keefektifan mereka. Pengambilan keputusan (decisionmaking)  diproses oleh pengambil keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan. Keputusan yang diambil akan menimbulkan aktivitas dan ataupun mengakhiri aktivitas.
Beberapa Pengertian Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli, Sebagai Berikut:

1.G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan 
kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.
2.P. Siagian : Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah,
pengumpulan fakta dan data.
3. Horold dan Cyril O’Donnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah      
pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu
rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat
dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
4.Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh
kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan,
penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.

Tipe Pengambilan keputusan ( Decision making) : adalah tindakan manajemen dalam pemilihan
alternative untuk mencapai sasaran.


 Keputusan dibagi dalam 3 tipe :
  • Keputusan terprogram/keputusan terstruktur yaitu keputusan yang berulang- ulang dan rutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah.
  • Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur yaitu keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan ini  seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan - perhitungan serta analisis yg terperinci.
  • Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur yaitu keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.


KASUS & TEORI
Tipe pengambilan keputusan yang di lakukan oleh pak Darwin adalah keputusan setengah terprogram  / setengah terstruktur. Dalam tipe pengambilan keputusan, keputusan setengah terprogram ini dapat di program dan berlangsung rutin. Keputusan ini sifatnya rumit dan membutuhkan perhitungan serta analisis yang terpirinci dalam pengambilan keputusan agar seorang manajer tidak salah langkah dan tidak membuat keruigan kepada perusahaan.

KESIMPULAN
Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer). Pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan tindakan tertentu dari suatu masalah dan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan salah satu fungsi manajemen dimana pihak terkait melakukan pertimbangan dan menjatuhkan pilihan yang meliputi merumuskan masalah, menganalisa masalah, menentukan dan mengembangkan alternatif, mengambil tindakan berdasarkan hasil pertimbangan, dan melakukan evaluasi. Pengambilan keputusan sangat dibutuhkan sebagai salah satu pemecahan masalah dalam kegiatan manajemen. Hal ini diharapkan dapat membantu kegiatan-kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan organisasinya. Dengan kata lain, pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memecahkan masalah dalam kegiatan organisasi. Keputusan dapat dilakukan secara mendadak, hal ini bisa dikarenakan keadaan yang tidak memungkinkan untuk merumuskan keputusan terlebih dahulu; dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada kegiatan rutin sehingga dapat dirumuskan terlebih dahulu

SARAN
Pengambilan keputusan baik dalam organisasi, perusahaan, maupun dalam lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan proses manajemen merupakan bagian dari kegiatan manajemen yang sangat vital berkaitan dengan hari depan/masa yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Karena itu setiap aspek dari pengambilan keputusan haruslah diperhatikan dengan saksama tanpa meninggalkan sedikitpun celah

DAFTAR PUSTAKA